Para Pejuang Kendeng “Njejegke Adil”

22 Maret diperingati sebagai hari air Internasional,yang sepatutnya menjadi peringatan bagi kita untuk selalu menjaga sumber-sumber kehidupan, merawat sumber-sumber mata air yang pastinya menguasai hajat hidup masyarakat. National Geographics mencatat bahwa kurang dari 1 persen jumlah air di Bumi yang dapat dikonsumsi makhluk hidup, dan jumlah sumber daya alam yang terbatas ini pun kian tertekan oleh pertumbuhan jumlah penduduk dan industri di dunia.

Negara, yaitu Pemerintah Republik Indonesia sebenarnya ikut mengambil peran dalam resolusi krisis perubahan iklim dan hilangnya keragaman hayati,namun upaya tersebut menjadi ironis ketika Kendeng sebagai salah satu gugusan karst di Indonesia, kini menjadi target penghisapan oleh korporasi.Berbagai aksi penolakan yang dilakukan, ditindak secara represif oleh pemegang kuasa.Para perempuan Kendeng yang melakukan aksi penghadangan, jatuh bangun berjibaku dengan teror dan intimidasi. Penolakan terus bergulir dan semakin luas keterlibatannya, tak hanya masyarakat sipil, namun para pakar dan akademisi juga ikut andil memberikan sumbang saran, pikiran dan tenaga terkait hal tersebut.

Aksi kolektif warga terhadap rencana pendirian dan pengoperasian pabrik semen milik PT. Semen Indonesia di Rembang dan pegunungan Kendeng sempat menemukan harapan. Tanggal 5 Oktober 2016 Mahkamah Agung mengeluarkan Putusan Peninjauan Kembali Nomor 99 PK/TUN/2016 yang mengabulkan gugatan petani Kendeng dan mencabut Izin Lingkungan Pembangunan dan Pertambangan Pabrik PT Semen Indonesia di Kabupaten Rembang. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, menyatakan mematuhi putusan MA, namun pada 23 Februari 2017 izin baru terkait pembangunan dikeluarkan kembali, dengan sedikit perubahan wilayah. Tunduknya para pengurus negara terhadap kuasa oligarki, merupakan pengingkaran tanggung-jawab dalam menjalankan fungsi-fungsi yang menjamin kelestarian lingkungan dan kesejahteraan rakyat. Hal ini menyulut kembali,protes dari warga, hingga aksi cor kaki, di depan istana presiden kembali dilakukan.

Bu Patmi, satu dari barisan perempuan pejuang Kendeng, beliau juga merupakan saksi terhadap penindasan sekaligus penghisapan sumber daya alam di lingkungan Kendeng. 21 Maret 2017, beberapa saat setelah memutuskan untuk menyudahi aksi cor di depan istana presiden, beliau tutup usia. Beberapa sumber menyatakan beliau mengalami serangan jantung.Lelah tentunya tidak sebanding dengan resah yang ditanggung oleh para pejuang Kendeng, Rindu berkumpul kembali dengan keluarga, tertimbun riuh ketidak pastian masa depan ekologis tempat mereka bertegur sapa. Namun pantang surut, dan terus berlipat aksi Cor,hingga saat ini masih terus berlangsung. Hingga kapan? Hingga Pemodal berhenti berulah,dan penguasa tidak membuat resah.

One thought on “Para Pejuang Kendeng “Njejegke Adil”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *