Seminar Indeks Kemerdekaan Pers Jawa Timur 2016 : Sudah Merdekakah Pers Kita?

1-min
3-min
2-min
4-min
5-min

Indeks Kemerdekaan Pers merupakan inisiatif dan kerja panjang Dewan Pers sejak tahun 2010. Indeks Kemerdekaan Pers muncul sebagai respon dari belum ditemukannya sebuah indikator yang secara memadai menggambarkan persoalan kemerdekaan pers di Indonesia, sekaligus memunculkan pencapaian-pencapaian positif yang telah dihasilkan oleh Indonesia.

Hasil Indeks Kemerdekaan Pers 2016 menunjukkan bahwa Indeks Kemerdekaan Pers Indonesia berada dalam posisi agak bebas (62.81) baik pada bidang hukum, politik dan ekonomi. Indeks Kemerdekaan Pers kumulatif di 24 provinsi di Indonesia berada dalam posisi agak bebas. Posisi ini tidak cukup aman karena ‘hanya’ dua indikator-utama yang relatif aman. Dari 19 indikator utama, terdapat lima indikator yang mengancam memperburuk kemerdekaan pers, yaitu (a) independensi media dari kelompok kepentingan (56.14); (b) tata kelola perusahaan (57.63); (c) independensi lembaga peradilan (59.33); (d) etika pers (60.85); dan (e) kehadiran lembaga penyiaran publik (61.25). Disisi lain, dari 71 indikator non utama terdapat 19 indikator (26.74%) dinilai baik. Kesembilan belas indikator tersebut mengindikasikan berkurangnya campur tangan negara dan pelembagaan akses informasi seperti kebebasan berserikat, kebebasan dari kriminalisasi dan intimidasi, akses atas informasi publik dan keragaman kepemilikan. Sembilan [9] indikator lainnya atau 14.08 % yang menyangkut (a) akses kelompok rentan pada media, (b) penghargaan pemerintah terhadap profesionalitas media dan (c) ketergantungan perusahaan pers pada kelompok yang kuat berkualitas buruk dan atau buruk sekali.

PUSHAM UBAYA bekerja sama dengan Dewan Pers, HRLS UNAIR dan AJI Surabaya, berkolaborasi menggagas acara ini, dengan tujuan sebagai sosialisasi dan menyediakan ruang diskusi terkait hasil Indeks Kemerdekaan Pers 2016, khususnya pada skala provinsi. Kegiatan yang mendapatkan dukungan dari Strengthening Human Rights and Peace Research and Education in ASEAN/Southeast Asia (SHAPE-SEA), dipandu oleh 4 orang narasumber yaitu: Christiana Chelsia Chan (Kelompok Kerja Hukum dan Perundang-undangan Dewan Pers), Aloysia Vira Herawati ( Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Surabaya), Azmi Sharom (University of Malaya, Malaysia), Herlambang Perdana Wiratraman (Human Rights and Law Studies Universitas Airlangga). Bertindak sebagai moderator yaitu Prasto Wardoyo (Ketua AJI Surabaya).

Kegiatan yang telah diselenggarakan pada 9 Desember 2016, di Gedung Serbaguna Fakultas Psikologi UBAYA ini, dihadiri oleh peserta akademisi, pegiat/akvitis pers (termasuk organisasi profesi dan serikat pekerja), pegiat LSM, pemerhati pers/media, pebisnis media, instansi pemerintahan, kepolisian, dan kejaksaan, sekolah, komunitas jurnalisme warga. Harapan dari terselenggaranya kegiatan ini, para stakeholders pers dan publik umum di Jawa Timur mendapatkan informasi mengenai situasi kemerdekaan pers sepanjang tahun 2016, serta memperoleh pemahaman atas indikator kemerdekaan pers hasil indeks ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *